OM SWASTYASTU * SELAMAT DATANG DI SASTRA AGAMA INI * SEMOGA SEMUA INFORMASI YANG DISAJIKAN DI SASTRA AGAMA BERGUNA BUAT SAUDARA DAN SAUDARI * SAHABAT DAN REKAN SEMUA * ARTIKEL YANG TERSAJI DISINI MERUPAKAN REFERENSI DARI BERBAGAI SUMBER YANG TERPERCAYA * TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

Halaman Pura

Halaman Pura adalah lambang Tri Loka yang dalam uraian Asta Kosala Kosali dan Asta Bumi dalam Babad Bali, disebutkan bahwa bentuk halaman pura sebagai tempat suci hendaknyalah persegi empat sesuai dengan aturan ukuran Asta Bumi sebagaimana diuraikan,

  • jangan membuat halaman pura tidak persegi empat misalnya,
    • ukuran panjang atau lebar di sisi kanan - kiri berbeda, sehingga membentuk halaman seperti trapesium, segi tiga, lingkaran, dll.


Hal ini berkaitan dengan tatanan pemujaan, sembahyang dan pelaksanaan upacara yadnya, misalnya pengaturan untuk meletakkan :


PEMBAGIAN HALAMAN PURA.

Untuk Pura yang besar menggunakan pembagian hulu teben halaman menjadi tiga yaitu:
  1. Utama Mandala, adalah bagian yang paling sakral terletak paling hulu, menggunakan ukuran Asta Bumi.
  2. Madya Mandala, adalah bagian tengah, menggunakan ukuran Asta Bumi yang sama dengan utama Mandala
  3. Nista Mandala, adalah bagian teben, boleh menggunakan ukuran yang tidak sama dengan utama dan nista mandala hanya saja lebar halaman tetap harus sama.
Ketiga Mandala itu merupakan satu kesatuan, artinya tidak terpisah-pisah, dan tetap berbentuk segi empat; tidak boleh hanya utama mandala saja yang persegi empat, tetapi madya mandala dan nista mandala berbentuk lain.

Di Utama mandala dibangun pelinggih-pelinggih utama, di madya mandala dibangun sarana-sarana penunjang misalnya

  • bale gong, perantenan (dapur suci), 
  • bale kulkul, 
  • bale pesandekan (tempat menata tetandingan banten), 
  • bale pesamuan (untuk rapat-rapat), dll. 
Di nista mandala ada pelinggih "Lebuh" yaitu stana Bhatara Baruna, dan halaman ini dapat digunakan untuk keperluan lain misalnya parkir, penjual makanan, wisata dll.

Batas antara nista mandala dengan madya mandala adalah "Candi Bentar" dan batas antara madya mandala dengan utama mandala adalah "Gelung Kori", sedangkan nista mandala tidak diberi pagar atau batas dan langsung berhadapan dengan jalan.

Ketiga halaman pura tersebut, baik halaman utama, madya maupun teben sebagaimana pula disebutkan dalam esensi & konsep pura sebagai tempat suci di bali, ketiga halaman pura tersebut dijelaskan sebagai berikut :

  • Halaman luar (jaba pura) sebagai lambang alam bawah, bhur loka. Alam ini, menurut kepercayaan umat Hindu, dianggap sebagai tempat para bhuta kala, sehingga halaman ini digunakan sebagai tempat memberi sesajen kepada makhluk tersebut agar tidak mengganggu manusia. Halaman ini digunakan untuk mengadakan upacara yang berhubungan dengan makhluk itu, seperti upacara mecaru, dan tabuh rah dll.
  • Halaman tengah (jaba tengah) sebagai simbolis dari alam tengah, bwah loka yaitu sebagai tempat tinggal manusia. Di halaman inilah dilaksanakan aktivitas menyiapkan segala sesajen untuk kepentingan upacara di pura tersebut. 
  • Halaman dalam (jeroan) sebagai simbolis alam atas swah loka sebagai tempat Tuhan, para dewa dan roh /atman suci para leluhur yang telah bersatu dengan Tuhan.

Sehingga dengan adanya hal tersebut, sebagaimana disebutkan seluruh aktivitas-aktivitas yang dilaksanakan sesuai dengan konsep Tri Mandala yang serasi, selaras, seimbang dan saling melengkapi secara harmonis sebagai bentuk penghayatan dan implementasi nilai-nilai dan ajaran Hindu Dharma.  


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Sekar Madya