OM SWASTYASTU * SELAMAT DATANG DI SASTRA AGAMA INI * SEMOGA SEMUA INFORMASI YANG DISAJIKAN DI SASTRA AGAMA BERGUNA BUAT SAUDARA DAN SAUDARI * SAHABAT DAN REKAN SEMUA * ARTIKEL YANG TERSAJI DISINI MERUPAKAN REFERENSI DARI BERBAGAI SUMBER YANG TERPERCAYA * TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

Ogoh - Ogoh


Ogoh - Ogoh adalah pertunjukan pada perayaan ngerupuk yaitu rangkaian dariupacara Tawur Agung Kesanga yaitu sebuah prosesi ekspresif - kreatif masyarakat Hindu di Bali dalam memaknai perayaan pergantian tahun Saka. Krama Bali membuat ogoh-ogoh bhuta
kala seperti :

  • Kala Bang, 
  • Kala Ijo, Sang Bajradaksa yang dikutuk oleh Bhatara Guru.
  • Kala Dengen, 
  • Kala Lampah, 
  • Kala Ireng 
dan berbagai bentuk lainnya yang merupakan perlambang sifat-sifat negatif yang mesti di-somya agar tak mengganggu kehidupan manusia.

Ogoh-ogoh merupakan buta kala yang dibuat kemudian natab caru pabiakalan sebuah ritual yang bermakna nyomia, mengembalikan sifat-sifat buta kala ke asalnya.

Ritual tersebut dilanjutkan dengan mengarak ogoh-ogoh mengelilingi jalan-jalan desa dan mengitari catus patasebagai simbol siklus sakral perputaran waktu menuju ke pergantian tahun Saka yang baru. Setelah prosesi pengerupukan / ngerupuk tersebut ogoh-ogoh dipralina (dibunuh) dengan dibakar.
Arak-arakan atau pawai ogoh-ogoh ini dilakukan sehari sebelum hari raya Nyepi tersebut, dalam perayaan hari pengerupukan. Yang biasanya diadakan moment yaitu mengarak ogoh - ogoh yang serempak dilaksanakan di seluruh Bali, demikian dikutip dari Pengerupukan di Desa Pekraman Kusamba.

Penamaan ogoh-ogoh pun diambil dari sebutan ogah-ogah dari bahasa Bali.

Artinya sesuatu yang digoyang-goyangkan. Ogoh-ogoh diabadikan bahkan dalam sebuah lagu Bali cukup populer.

Kata-kata itu dicatumkan sebagai lirik berbunyi “ogah-ogah, ogoh-ogoh, kala-kali lumamapah/ ogah-ogah, ogoh-ogoh, ngiterin desa…”.

Tahun 1983 bisa menjadi bagian penting dalam sejarah ogoh-ogoh di Bali. Pada tahun itu mulai dibuat wujud-wujud bhuta kala berkenaan dengan ritual Nyepi di Bali.


“Ketika itu ada keputusan presiden yang menyatakan Nyepi sebagai hari libur nasional,” tutur Kadek Adhi. Semenjak itu masyarakat mulai membuat perwujudan onggokan yang kemudian disebut ogoh-ogoh, di beberapa tempat di Denpasar.

Budaya baru ini semakin menyebar ketika ogoh-ogoh diikutkan dalam Pesta Kesenian Bali ke XII. Delapan kabupaten ikut berkontribusi. Sebelum itu, menurut Kadek Adhi, hanya ada pawai-pawai tanpa ada bentuk perwujudan.

Lelakut
Tradisi mengembalikan Bhuta Kala ke asalnya di hari pengrupukan, disimbolkan dengan ogoh-ogoh, mirip tradisi lama masyarakat Hindu Bali. Tradisi Barong Landung, Tradisi Ndong Nding dan Ngaben Ngwangun yang menggunakan ogoh-ogoh Sang Kalika, dalam rujukan untuk menelusuri cikal bakal wujud ogoh-ogoh.

Di dalam babad, tradisi Barong Landung berasal dari cerita tentang seorang putri Dalem Balingkang, Sri Baduga dan pangeran Raden Datonta yang menikah ke Bali.

Tradisi meintar mengarak dua ogoh-ogoh berupa laki-laki dan wanita mengelilingi desa tiap sasih keenam sampai kesanga. Visualisasi wujud Barong Landung inilah yang dianggap sebagai cikal bakal lahirnya ogoh-ogoh dalam ritual Nyepi.

“Ada tradisi Ndong-nding yang bisa juga dirujuk,” Ngusaba Ndong nding semacam tradisi pengusiran hama di Karangasem, ritual ini menggunakan lelakut, semacam orang-orangan sawah. Hama diibaratkan sebagai sang bhuta kala, energi negatif yang mengganggu manusia.

Begitu halnya ketika hari pengrupukan. Sang Bhuta Kala diberi upah berupa pecaruan, lalu disomya, disadarkan agar kembali ke asalnya. Dualisme itu ada dan harus diseimbangkan.

Ada mantra khan yang bunyinya dewa ya, bhuta ya, kala ya,” ujarrnya. Diterangkannya, dewa dari div berarti sinar; bhuta dari bhu berarti gelap.

Sedangkan kala yang berada di tengah-tengah, berarti energi atau kekuatan bisa juga waktu.

“Maka, ketika kala terpengaruh bhuta dia mengandung energi kegelapan, negatif menjadi bhuta kala. Sebaliknya, begitu juga pada dewa,” terangnya. Sifat-sifat itu juga ada dalam manusia. “Bila kita marah, menyeramkan, kita memiliki sifat-sifat bhuta,”.

Ogoh-ogoh juga digunakan dalam upacara ngaben. “Ada namanya Ngaben Ngwangun, salah satu tingkatan upacara ngaben, bisa berupa kakek atau nenek,” ungkapnya sembari menerangkan juga perihal Sang Kalika.

Kaca Rasa
Ogoh-ogoh merupakan budaya baru di Bali. Kehadirannya menjadi salah satu pelengkap ritual Nyepi. “Ada budaya-budaya yang mengalami proses tersakralisasi dan itu sah-sah saja,” paparnya. Eksistensi tradisi dalam pelaksanaan ritual umat Hindu di Bali saling melengkapi, sudah baur menjadi kesatuan.

Seiring waktu banyak yang mengkaji keberadaan ogoh-ogoh baik dari tafsir agamaseni dan budaya. “Setelah dikaji dan dikaitkan dengan konsep agama, ogoh-ogoh lebih mengarah ke bentuk tradisi,”.

Ogoh-ogoh merunut jejaknya, kemunculannya lebih kepada suatu bentuk simbolisasi. Menyimbolkan energi-energi negatif sang bhuta kala, dengan perwujudan menyeramkan untuk dipralina, dilebur dengan air maupun api. “Umpamanya, kalau mau mengusir yang jahat pakailah perwujudan yang seram juga,” ini dinamai dengan konsep kaca rasa, yang memberikan suatu cerminan atas sesuatu yang terlihat.

Sebagai suatu bentuk karya seni, ia juga tak bisa dilepaskan dari unsur Satyam, Siwam dan Sundaram,” jelasnya. Konsep penciptaan dalam masyarakat Hindu sangat terkait dengan unsur Kebenaran (satyam), kebaikan/kesucian (siwam) dan keindahan (sundaram).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sekar Madya